Ada yang aneh saat saya membaca karya Dewi lestari, saya begitu larut dalam jalinan kata dan narasi yang ia rangkai sehingga mendapati diri saya telah menjadi versi terbaik saya dalam membaca sebuah karya.
Setiap penulis pasti punya ide yang ia peti es kan entah sampai kapan, namun kadang ide itu menyeruak kembali seakan memberi pertanda pada penulis untuk mewujudkannya.
Dalam proses kreatifnya, Dewi Lestari (Dee) menceritakan bahwa karya ini beberapa kali kalah bersaing dengan karya-karya lain saat hendak diterbitkan sehingga tersedimentasi 27 tahun lamanya sebelum pada akhirnya dirilis.
Pada novel ini Dee tampaknya masih ingin bermain main dengan panca indra. Kali ini Indra pendengaran lah yang dipilih, sebuah kesamaan lain dengan novel Aroma Karsa yang menceritakan Indra penciuman yang juga dirilis melalui platform digital dalam bentuk cerita bersambung.
Kisah ini menceritakan kisah seorang Prodigy musik yang terbentuk secara natural melalui tempaan dan polesan kehidupan. Lika liku hidup PING, seorang remaja perempuan 17 tahun berasal dari Batu Karas, menjadi penceritaan utama dalam novel ini.
Sebuah pilihan yang sulit saat setting waktu diubah dari latar tahun 90 dimana tren bermusik dengan format band begitu marak menjadi setting waktu masa kini dimana ketiaadaan tren telah menjadi tren tersendiri.
Kekuatan survey itulah kuncinya, menurut saya riset yang amat baik adalah salah satu kekuatan Dee. Menceritakan sesuatu begitu detail menjadikan karya-karyanya begitu nyata dan membuat pembaca seakan berpindah kedalam cerita yang ia buat.selain itu latar belakang Dee sebagai musisi sebelum ia menjadi penulis mungkin juga sangat membantu penulisan novel ini
Keunggulan lain adalah untuk kisah dengan tokoh yang banyak dan beragam serta penokohan yang kuat tidak menjadikan karya ini rumit untuk dibaca. Alur yang mengalir effortlessly tanpa terlalu banyak plot twist justru menjadi kekuatan cerita ini, karena kalau tidak tentu pembaca akan lelah.
Dan pada akhirnya cerita inipun mengalun indah seperti sebuah lagu sesuai dengan yang diharapkan penulisnya saat membuat cerita berlatar belakang musik ini.
Sembari mendapati kenyataan bahwa ternyata saya adalah pembaca buku cetak daripada digital, melalui karya ini saya bisa bernostalgia tentang zaman sekolah dulu.
Lain dari itu, saya juga menyadari satu hal yang mungkin tidak pernah menjadi perhatian saya sebelumnya, bahwa kita sebenarnya berutang pada setiap ide yang hadir di alam pikir ciptaan Sang Maha Kuasa untuk diwujudkan.
Termasuk untuk orang seperti saya mungkin ada baiknya saya tidak terlalu sering membiarkan ide lelap dalam tidur kryogenik seperti kata Dewi lestari.