Sabtu, 07 Agustus 2021

Resensi buku Rapijali karya Dee

 Ada yang aneh saat saya membaca karya Dewi lestari, saya begitu larut dalam jalinan kata dan narasi yang ia rangkai sehingga mendapati diri saya telah menjadi versi terbaik saya dalam membaca sebuah karya.


Setiap penulis pasti punya ide yang ia peti es kan entah sampai kapan, namun kadang ide itu menyeruak kembali seakan memberi pertanda pada penulis untuk mewujudkannya. 


Dalam proses kreatifnya, Dewi Lestari (Dee) menceritakan bahwa karya ini beberapa kali kalah bersaing dengan karya-karya lain saat hendak diterbitkan sehingga tersedimentasi 27 tahun lamanya sebelum pada akhirnya dirilis.


Pada novel ini Dee tampaknya masih ingin bermain main dengan panca indra. Kali ini Indra pendengaran lah yang dipilih, sebuah kesamaan lain dengan novel Aroma Karsa yang menceritakan Indra penciuman yang juga dirilis melalui platform digital dalam bentuk cerita bersambung.


Kisah ini menceritakan kisah seorang Prodigy musik yang terbentuk secara natural melalui tempaan dan polesan kehidupan. Lika liku hidup PING, seorang remaja perempuan 17 tahun berasal dari Batu Karas, menjadi penceritaan utama dalam novel ini.


Sebuah pilihan yang sulit saat setting waktu diubah dari latar  tahun 90 dimana tren bermusik dengan format band  begitu marak menjadi setting waktu masa kini dimana ketiaadaan tren telah menjadi tren tersendiri.


Kekuatan survey itulah kuncinya, menurut saya riset yang amat baik adalah salah satu kekuatan Dee. Menceritakan sesuatu begitu detail  menjadikan karya-karyanya begitu nyata dan membuat pembaca seakan berpindah kedalam cerita yang ia buat.selain itu latar belakang Dee sebagai musisi sebelum ia menjadi penulis mungkin juga sangat membantu penulisan novel ini


Keunggulan lain adalah untuk kisah dengan tokoh yang banyak dan beragam  serta penokohan yang kuat tidak menjadikan karya ini rumit untuk dibaca. Alur yang mengalir effortlessly tanpa terlalu banyak plot twist justru menjadi kekuatan cerita ini, karena kalau tidak tentu pembaca akan lelah. 


Dan pada akhirnya cerita inipun mengalun indah seperti sebuah lagu sesuai dengan yang diharapkan penulisnya saat membuat cerita berlatar belakang musik ini.


Sembari mendapati kenyataan bahwa ternyata saya adalah pembaca buku cetak daripada digital, melalui karya ini saya bisa bernostalgia tentang zaman sekolah dulu. 


Lain dari itu, saya juga menyadari satu hal yang mungkin tidak pernah menjadi perhatian saya sebelumnya, bahwa kita sebenarnya berutang pada setiap ide yang hadir di alam pikir ciptaan Sang Maha Kuasa untuk diwujudkan.


Termasuk untuk orang seperti saya mungkin ada baiknya saya tidak terlalu sering membiarkan ide lelap dalam tidur kryogenik seperti kata Dewi lestari.

 Ada yang aneh saat saya membaca karya Dewi lestari, saya begitu larut dalam jalinan kata dan narasi yang ia rangkai sehingga mendapati diri saya telah menjadi versi terbaik saya dalam membaca sebuah karya.


Setiap penulis pasti punya ide yang ia peti es kan entah sampai kapan, namun kadang ide itu menyeruak kembali seakan memberi pertanda pada penulis untuk mewujudkannya. 


Dalam proses kreatifnya, Dewi Lestari (Dee) menceritakan bahwa karya ini beberapa kali kalah bersaing dengan karya-karya lain saat hendak diterbitkan sehingga tersedimentasi 27 tahun lamanya sebelum pada akhirnya dirilis.


Pada novel ini Dee tampaknya masih ingin bermain main dengan panca indra. Kali ini Indra pendengaran lah yang dipilih, sebuah kesamaan lain dengan novel Aroma Karsa yang menceritakan Indra penciuman yang juga dirilis melalui platform digital dalam bentuk cerita bersambung.


Kisah ini menceritakan kisah seorang Prodigy musik yang terbentuk secara natural melalui tempaan dan polesan kehidupan. Lika liku hidup PING, seorang remaja perempuan 17 tahun berasal dari Batu Karas, menjadi penceritaan utama dalam novel ini.


Sebuah pilihan yang sulit saat setting waktu diubah dari latar  tahun 90 dimana tren bermusik dengan format band  begitu marak menjadi setting waktu masa kini dimana ketiaadaan tren telah menjadi tren tersendiri.


Kekuatan survey itulah kuncinya, menurut saya riset yang amat baik adalah salah satu kekuatan Dee. Menceritakan sesuatu begitu detail  menjadikan karya-karyanya begitu nyata dan membuat pembaca seakan berpindah kedalam cerita yang ia buat.selain itu latar belakang Dee sebagai musisi sebelum ia menjadi penulis mungkin juga sangat membantu penulisan novel ini


Keunggulan lain adalah untuk kisah dengan tokoh yang banyak dan beragam  serta penokohan yang kuat tidak menjadikan karya ini rumit untuk dibaca. Alur yang mengalir effortlessly tanpa terlalu banyak plot twist justru menjadi kekuatan cerita ini, karena kalau tidak tentu pembaca akan lelah. 


Dan pada akhirnya cerita inipun mengalun indah seperti sebuah lagu sesuai dengan yang diharapkan penulisnya saat membuat cerita berlatar belakang musik ini.


Sembari mendapati kenyataan bahwa ternyata saya adalah pembaca buku cetak daripada digital, melalui karya ini saya bisa bernostalgia tentang zaman sekolah dulu. 


Lain dari itu, saya juga menyadari satu hal yang mungkin tidak pernah menjadi perhatian saya sebelumnya, bahwa kita sebenarnya berutang pada setiap ide yang hadir di alam pikir ciptaan Sang Maha Kuasa untuk diwujudkan.


Termasuk untuk orang seperti saya mungkin ada baiknya saya tidak terlalu sering membiarkan ide lelap dalam tidur kryogenik seperti kata Dewi lestari.

Kamis, 21 Mei 2020

Sinopsis buku The Great Gatsby by Scott Fitzgerald

Jauh sebelum istilah "social climbing" atau panjat sosial (pansos) sering digunakan  saat ini Scott Fitztgerald telah menceritakan fenomena ini melalui masterpiece nya Great Gatsby. Melalui cetoteh Nick Carraway, Fitgerald  menggambarkan suasana Amerika pada tahun 1925 ( Jazz Age period) dengan sangat detail, Amerika saat itu memasuki era terjadinya peningkatan konsumerisme dan  gaya hidup yang semakin glamor setelah perang dunia 1. Adalah Nick Carraway seorang veteran perang sebagai narrator sekaligus sebagai sudut pandang dalam cerita ini yang menceritakan Jay Gatsby sebagai tokoh utama (Fitzgerald dengan cerdik menggambarkan karakter Nick sebagai educated lulusan Yale dan seorang penulis sehingga pembaca menganggap Nick merupakan narrator yang layak dipercaya) . Konsep yang tidak biasa untuk sebuah novel saat itu. Bagi saya cukup sulit untuk mendeskripsikan Great Gatsby dalam sebuah sinopsis karena bahkan kata-kata Nick pun dibahasakan dengan dalam dan penuh makna. Cerita dimulai saat Nick sang narator pindah untuk mencari penghidupan dan mengembangkan diri dari Midwest ke West Egg atau "new money" atau tempat orang kaya baru (entah kenapa saya membayangkan orang2 dari Silicon Valley disini).Nick ternyata bertetangga dengan pria yang misterius yang tak lain adalah tokoh utama cerita ini Gatsby,  alur cerita selanjutnya adalah Gatsby mencintai Deasy kekasihnya dulu yang sudah bersuami Tom Buchanan orang kaya sejak lahir yang berasal dari East Egg yang bisa diumpamakan sebagai Upper East Side nya Manhattan saat ini yaitu tempat orang kaya tujuh turunan berkumpul (it takes more than money to have a house there).Meski Tom Buchanan tidak setia  ternyata Deasy pada akhirnya tetap memilih Buchanan dibanding Gatsby.  Gatsby berusaha memperbaiki hubunganya dengan mengundang Deasy menghadiri pesta-pesta mewah yang diadakannya (di filmya garapan Bahr Luhzman digambarkan dengan glamor, saya belum nonton filmya, tapi dia emang jagonya).Terlepas dari lika-liku kisah cinta para "gold digger"yang dihadirkan,sosok Gatsby sebagai tokoh utama dalam novel ini  dihadirkan  "misterius" untuk menjaga rasa penasaran pembaca.Diluar dari itu gaya bahasa,  simbol serta realitas sosial yang dihadirkan dalam novel ini menjadikan novel ini hampir dikatakan sempurna sebagai sebuah karya sastra, namun begitu, yang menurut saya stand out adalah orisinalitas Ide Fitgerald yang tidak biasa, meski kenyataannya sulit diterima pada zamannya.Sebut saja The Curious Case of Benjamin Button karya nya yang berasal dari short story.Tak heran Great Gatsby justru laku  bepuluh tahun setelah diterbitkan. Anyway.... people cannot appreciate something of value that they don't understand right? For me he just too visionary....
Ya